Ringkasan Pengajian Jama’ah Umrah Al Madinah Tour – 13 Maret 2016

8df88c1e-8046-4164-8b4d-c09f1a59bd63

MUQADDIMAH
Beliau awali dengan mengingatkan akan banyaknya nikmat-nikmat Allah. Salah satu bentuk nikmat tsb adalah adanya semangat untuk menuntut ilmu syar’i.

Ilmu syar’i (ilmu agama) adalah jalan yang mendekatkan kita ke surga, sekaligus menjauhkan kita dari neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam besabda:
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله به طريقا إلى الجنة
“Man salaka thariiqan yaltamisu fiihi ‘ilman, sahhalallaahu bihi thariiqan ilal jannah”
Artinya: barang siapa yg menempuh satu jalan dalam rangka menuntut ilmu agama, Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.

Cara agar kita tahu mana perintah dan mana larangan, adalah dengan cara belajar agama.

Beliau lanjutkan dengan kisah tentang semangat para ulama dalam menuntut ilmu.

Imam Ahmad bin Hambal, berangkat melanglang penjuru dunia Islam sejak usia 12 tahun dan baru kembali ke Baghdad pada usia 40 tahun. Setelah itu baru beliau mulai mengajar di Baghdad.

Majelis Imam Ahmad dihadiri sekitar 5000 peserta (setara kapasitas Mandala Krida barangkali..yg ini tambahan saya?). Meskipun yang mencatat hanya sekitar 500 orang saja (10%). Selebihnya hadirin yang datang ingin melihat adabnya Imam Ahmad. Saat itu blm ada pengeras suara.

Salah satu murid beliau ada yang bernama Baqi’ bin Makhlad. Beliau berasal dari Andalus (Spanyol) di benua Eropa. Untuk menuju Baghdad, beliau harus menempuh perjalanan laut melalui Afrika Utara (Maroko, Tunisia, Mesir, Sudan, dll). Sambil singgah di beberapa negara, sekalian menuntut ilmu.

Setelah itu, menyeberang ke benua Asia. Ke Mekkah dulu sekalian haji, baru melanjutkan perjalanan darat menuju Baghdad (Iraq).

Total waktu yang dibutuhkan sejak dari Andalus hingga tiba di Baghdad adalah 1 tahun. (Maa syaa Allah…?)

Sesampai di Baghdad beliau menemui Imam Ahmad di rumahnya. Qadarullah, sang Imam sedang mendapat sanksi dari Khalifah Al Ma’mun. Imam Ahmad tidak diizinkan mengajar. Saat itu khalifah berbeda pemahaman dengan Imam Ahmad, maka Imam Ahmad tidak diizinkan mengajar.

“Tahukah anda saya berasal dari mana? Saya dari Andalus..!!! Kasihanilah saya..!!”, kata Baqi’ di hadapan sang Imam.

“Kalau begitu, datanglah setiap pagi kesini, sambil menyamar sebagai pengemis. Aku akan menyampaikan 1 hadits setiap hari sebagai bentuk sedekah”. Imam Ahmad nencoba memberikan solusi.

Setelah beberapa waktu, Khalifah Al Makmun meninggal dunia dan khalifah pengganti betikutnya membolehkan Imam Ahmad untuk mengajar kembali. Imam Ahmad pun mengajar di masjid dan selalu menempatkan Baqi’ bin Makhlad di sisi beliau.

Suatu hari, Imam Ahmad tidak melihat Baqi’. “Dimana Baqi’..?” Murid-murid beliau menjawab, “Baqi’ sedang sakit.” “Kalau begitu, aku akan jenguk dia..”, kata Imam Ahmad. Majelis hari itu terpaksa diliburkan.

Melihat sang Imam berangkat menjenguk, maka ribuan jama’ah yang hadir pun ikut menjenguk ke kost-kost an Baqi’.

Baqi’ bin Makhlad menceritakan, “Hari itu saya seperti merasakan gempa karena gemuruh jama’ah yang mengiringi Imam Ahmad..”

Setelah kejadian itu, Baqi’ bin Makhlad menjadi orang yang kaya raya karena masyarakat umum banyak yang ikut menjenguk, mengikuti apa yang dilakukan Imam Ahmad.

MATERI INTI

Bentuk-Bentuk Kebahagiaan Manusia:

  1. Jika merasakan kemudahan dalam menjalankan keta’atan kepada Allah.
    Ini yang disebut oleh Imam Ibnu Taimiyyah sebagai “surga dunia”.
    إن في الدنيا جنة…
    “Inna fid dunya jannah… Sesungguhnya di dunia itu ada surga. Orang yang tidak mendapatkannya di dunia, dia tidak akan dapatkan kelak di akhirat” Surga dunia yang beliau maksud adalah menjalankan ketaatan kepada Allah ta’ala.
    Cara mendapatkannya:
    a. Mujahadah (bersungguh-sungguh)
    b. Berdo’a, diantaranya:
    يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
    “Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik”
    Wahai dzat yang membolak-balikkan hati manusia, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.
    يا مصرف القلوب صرف قلبي إلى طعاتك
    “Yaa musharrifal quluub, sharrif qalbii ilaa tha’aatik”
    Wahai dzat yang memalingkan hati manusia, palingkanlah hatiku untuk menaati-Mu.
    اللهم أعني على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
    “Allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husnii ‘ibaadatik”
    Yaa Allah, tolonglah aku untuk bisa senantiasa berdzikir mengingat-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.

Beliau mencontohkan kebahagiaan saat berbuka, bukan semata karena hilangnya rasa haus dan lapar. Tapi karena telah berhasil melaksanakan ketaatan kepada Allah. Denikian juga berlaku untuk ibadah umrah dan yang lainnya.

2⃣Jika seseorang bisa mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah. Sunnah Rasulullah sejak bangun tidur sampai tidur kembali. Dalam semua aktifitas. Beliau juga jelaskan hikmah do’a “Ghufraanak..” saat keluar dari kamar mandi.

3⃣ Jika seseorang bisa bersahabat dengan orang-orang shalih.

Manusia itu ada 3:
Bagaikan udara (الريح). Setiap manusia membutuhkannya sepanjang waktu. Merekalah para ulama.
Bagaikan obat (الدواء), orang-orang shalih.
Bagaikan racun (الداء), orang yang selalu bermaksiat.

Rasulullah juga mengibaratkan sahabat yang baik itu seperti penjual minyak wangi.

4⃣
Jika seseorang bisa berkhaq dengan baik.
الجزاء من جنس العمل
“Al jazaa’u min jinsil ‘amal”
Balasan itu setara dengan perbuatannya.

Rasulullah bersabda:
خيركم خيركم لأهله وأنا خيركم لأهلي
“Khairukum, khairukum li ahlihi. Wa ana khairukum li ahliy”
Sebaik baik kalian adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluarganya. Dan aku adalah orang terbaik diantara kalian dalam memperlakukan keluargaku.

Contoh:
Ibnu Mas’ud terhadap ibunya. Ibunya terbangun dan minta diambilkan minum. Saat dibawakan, ternyata sang ibu sudah tidur lagi. Beliau tidak berani membangunkan, khawatir jika setelah bangun sang ibu susah tidur kembali. Akhirnya beliau tunggui sampai subuh rela tidak tidur demi ibu.

Abu Hurairah tidak pernah ambil makanan mendahului ibunda. Khawatir makanan tersebut sebetulnya sudah dilirik sang ibu. Beliau menganggap, mengambil makanan yang diinginkan sang ibu adalah bentuk kedurhakaan.

===================
Semoga Allah berikan taufiq untuk bisa mengerjakan hal-hal yang dicintai dan dirihai-Nya.

Check Also

Sirah Nabawiyah 28 : Sekilas ulasan tentang urutan kronologi turunnya wahyu (2)

Sirah Nabawiyah 28 : Sekilas ulasan tentang urutan kronologi turunnya wahyu (2) Keempat, berupa bunyi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *