Sirah Nabawiyah 35: Mekkah Geger

Di cerita sebelumnya disebutkan bagaimana dakwah nabi muhammad secara sembunyi-sembunyi sebenarnya sudah diketahui kalangan Quraisy. Namun karena mereka pikir Muhammad hanya bicara seputar masalah-masalah ketuhanan dan hak-haknya mereka tidak mau ambil pusing.

Sebaliknya setelah turunnya ayat untuk berdakwah secara terang-terangan, mulailah sebagian kalangan Quraisy bersifat keras. Hal itu ditunjukkan dengan kejadian di bukit shafa.

sumber gambar: https://i.pinimg.com/originals/f0/75/80/f075803c1390b4b58d22f179ee5f2354.jpg

Seruan beliau terus bergema di seantero mekkah, hingga kemudian turun ayat.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik”

(Q.S. Al Hijr:94)

Maka kemudian Rasulullah langsung bangkit

  • Menyerang berbagai khurafat dan kebohongan syirik
  • Menyebutkan kedudukan berhala dan hakikatnya yang sama sekali tidak ada nilainya.Ketidakberdayaan itu beliau gambarkan dengan beberapa contoh perumpaan, disertai penjelasan-penjelasan bahwa siapa yang menyembah berhala dan menjadikannya sebagai wasilah antara dirinya dan Allah berada dalam kesesatan yang nyata.

Mekkah berpijar dengan api kemarahan, bergolak dengan keanehan dan pengingkaran, tatkala mendengar suara yang memperlihatkan kesesatan orang-orang musyrik dan para penyembah berhala. Suara itu seakan-akan petir yang membelah awan, berkilau, dan menggelegar, dan mengguncang udara yang tadinya tenang. Orang-orang quraisy bangkit untuk menghadang revolusi yang datang secara tak terduga ini, dan yang dikhawatirkan akan merusak tradisi warisan mereka.

Mereka bangkit akan menyadari bahwa makna iman yang beliau serukan adalah penafian terhadap uluhiyah selain Allah, bahwa makna iman kepada risalah dan hari akhirat adalah ketundukan dan kepasrahan secara total, sehingga mereka tidak punya pilihan terhadap diri dan harta mereka.

Dengan kata lain, iman ini akan melumatkan kepemimpinan dan keunggulan mereka di atas semua bangsa Arab, yang sebelum itu juga menggunakan label agama. Dengan kata lain, mereka harus menerapkan keridhaan sesuai dengan keridhaan Allah dan rasulNya, menghentikan kedhalima yang sebelumnya biasa mereka lakukan untuk melindas rakyat awam, begitu juga berbagai macam keburukan yang biasa mereka lakukan pagi dan sore.

Mereka menangkap makna itu karena mereka tidak bisa menerima “kedudukan yang hina”, yang tidak mencerminkan kehormatan dan kebaikan.

“Bahkan manusia itu hendak bermaksiat terus-menerus”

(Q.S. Al Qiyamah:5)

Mereka menyadari semua itu. Tapi apa yang bisa mereka perbuat menghadapi orang yang jujur dan dapat dipercaya ini, menghadapi gambaran tertinggi dari nilai kemanusiaan dan akhlak yang mulia. Sepanjang sejarah nenek moyang dan perjalanan berbagai kaum, mereka tidak pernah mengetahui bandingan yang seperti itu. Apa yang akan mereka lakukan?

Nantikan di kisah selanjutnya!

 

 

 

 

 

Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury
Sumber : Kitab Ar-Rahiqul Makhtum

Like fanpage

www.facebook.com/almadinahtour dan follow instagram kami @almadinahtour untuk mendapatkan artikel-artikel islami bermanfaat dan informasi Haji dan Umroh yang murah dan terjangkau.

www.almadinahtour.com
082265938444 – 087738628444 (WA/SMS/Telpon)
Jalan Monjali no. 179B
Blunyahgede, Sinduadi, Mlati, Sleman

umroh murah, umroh resmi, umroh resmi jogja, umroh sunnah, umroh murah jogja, umroh VIP,  umroh premium, umroh berkah, travel umroh terpercaya, umroh bandung, oleh oleh haji umroh, perlengkapan haji umroh, oleh oleh haji, air zamz am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *