Keutamaan Kota Madinah (1)

Kota Rasulullah ﷺ (kota Madinah), kota mulia, tempat turunnya wahyu dan turunnya Jibril al-Amin kepada Rasulullah ﷺ. Kota yang menjadi tempat kembalinya iman, tempat pertemuan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Kota Madinah adalah ibu kota pertama bagi kaum Muslimin. Disanalah dikibarkan bendera jihad di jalan Allah. Dari kota ini juga pasukan-pasukan pembawa kebenaran bertolak untuk membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Dari kota ini, cahaya hidayah memancar sehingga bumi terterangi dengan cahaya hidayah. ltulah kota yang menjadi tujuan hijrah Rasulullah ﷺ; Disana Beliau ﷺ menghabiskan sisa usia Beliau ﷺ dan disana pula Beliau ﷺ dikuburkan dan dari kota itu, Beliau ﷺ akan dibangkitkan. Kubur Beliau ﷺ merupakan kuburan pertama yang akan dibangkitkan pada Hari Kiamat.
Kota Madinah yang penuh berkah ini telah dimuliakan oleh Allah Subhanahuwata’ala dan diberi berbagai keutamaan. Allah Subhanahuwata’ala menjadikannya sebagai tempat terbaik setelah Mekah. Yang menunjukkan keutamaan Mekah atas Madinah yaitu sabda Rasulullah ﷺ ketika Beliau ﷺ diusir dari Mekah dan hijrah menuju Madinah. Beliau ﷺ bersabda kepada Mekah :

Demi Allah! Sesungguhnya kamu merupakan bumi Allah yang terbaik, tempat yang paling dicintai oleh Allah. Seandainya aku tidak diusir darimu niscaya aku tidak akan keluar darimu. (HR. at-Tirmidzi dan lbnu Majah. Hadits ini hadits shahih).

Adapun hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ yaitu hadits yang menyatakan bahwa Nabi ﷺ berdoa dengan do’a yang artinya, “Wahai Allah! Sesungguhnya Engkau telah mengeluarkanku dari tempat yang paling aku cintai – yaitu Mekah – maka tempatkanlah aku ditempat yang paling Engkau cintai- yaitu Madinah.” Hadits
ini adalah hadits palsu dan maknanya kacau (tidak benar). Karena hadits ini memberikan kesan bahwa yang paling Allah cintai tidak sama dengan apa yang Nabi ﷺ cintai, padahal sudah diketahui umum bahwa kecintaan Rasulullah ﷺ mengikuti kecintaan Allah Subhanahuwata’ala bukan saling bertentangan.

1. Kota Madinah Sebagai Kota Haram

Diantara keutamaan kota Madinah adalah Allah Subhanahuwata’ala telah menjadikannya sebagai kota yang haram dan aman, sebagaimana Allah Subhanahuwata’ala menjadikan kota Mekah sebagai kota haram dan aman. Nabi ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya Nabi Ibrahim menjadikan kota Mekah sebagai kota haram, dan sesungguhnya aku menjadikan Madinah sebagai kota yang haram juga. (HR. Muslim)

Maksud dari penyandaran pengharaman kepada Nabi Muhammad ﷺ dan Nabi Ibrahim ﷺ dalam hadits di atas adalah pengharaman ditampakkan melalui keduanya bukan mereka berdua yang mengharamkan karena sesungguhnya hak mengharamkan hanya milik Allah subhanahuwata’ala. Allahlah yang menjadikan Mekah dan Madinah menjadi kota haram.

Allah ~ hanya mengkhususkan dua kota ini dengan sifat haram. Tidak ada dalil kuat yang menunjukkan adanya kota haram selain kota Mekah dan Madinah. Ada pun berita yang tersebar ditengah masyarakat yang menyatakan bahwa Masjid al-Aqsha merupakan kota haram yang ketiga, maka itu merupakan berita yang salah, karena tidak ada kota haram yang ketiga. Namun jika dikatakan bahwa masjid al-Aqsha merupakan masjid ketiga yang dimuliakan dan diagungkan, maka itu benar. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu yang disepakati kesahihannya yang mengisyaratkan keutamaan tiga masjid ini dan keutamaan shalat didalamnya.
Rasulullah ﷺ bersbada:

Tidak boleh melakukan safar (menuju tempat yang dianggap berkah) kecuali safar menuju tiga masjid yaitu Masjidil Haram, Masjidku ini dan Masjidil Aqsha. (HR. Imam al-Bukhari dan Muslim)

Kemudian yang dimaksud dengan daerah haram di kota Mekah dan Madinah adalah wilayah yang mencakup semua area yang berada dalam batasbatas kota Mekah dan Madinah. Adapun perkataan yang mengatakan bahwa wilayah haram ini hanya sebatas di Masjid Nabawi saja, maka adalah sebuah kekeliruan. Karena bukan hanya masjid Nabawi saja yang haram, tapi seluruh kota Madinah termasuk daerah haram, yaitu daerah yang berada antara ‘Air dan Tsaur dan antara dua daerah berbatu hitam. Nabi ﷺ bersabda:

Kota Madinah merupakan kota haram, (yaitu) wilayah antara gunung ‘Air dan gunung Tsaur (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Nabi ﷺ juga bersabda:

Sesungguhnya aku mengharamkan wilayah yang terletak antara dua tanah berbatu hitam kota Madinah, tidak boleh dipotong pepohonannya dan tidak boleh dibunuh hewan buruannya (HR. Muslim).

Namun fakta yang sudah diketahui oleh masyarakat dunia bahwa kota Madinah saat ini telah mengalami perluasan sehingga sebagian dari kota Madinah telah keluar dari daerah haram. Oleh karena itu tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa semua bangunan yang ada di kota Madinah sekarang ini masuk dalam daerah yang diharamkan. Yang benar adalah semua wilayah kota Madinah yang berada dalam batasan wilayah haram, maka dia termasuk wilayah haram, sedangkan wilayah kota Madinah yang sudah keluar dari batasan wilayah haram, meski wilayah ini masih bisa disebut kota Madinah, namun wilayah tersebut tidak termasuk dalam wilayah haram.

Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan batasan wilayah haram ‘di kota Madinah yaitu wilayah atau daerah yang terletak antara dua tanah (bebatuan yang) hitam, atau (dalam riwayat lain yaitu) yang terletak antara dua harrah, atau (dalam riwayat lain yaitu) wilayah yang terletak antara dua gunung, atau (dalam riwayat lain yaitu) wilayah yang berada antara antara ‘Air dan Tsaur. Penyebutan batasan-batasan haram dengan teks yang berbeda-beda ini tidak saling berlawanan. Karena (batasan-batasan yang disebutkan oleh Rasulullah ﷺ ada batasan yang kecil dan ada batasan yang besar, dan-pent) batasan yang kecil masuk dalam batasan yang besar. Jadi semua daerah yang berada dalam batasan-batasan tersebut masuk dalam wilayah haram. Apabila ada daerah yang masih diragukan, apakah wilayah itu masuk dalam wilayah haram atau tidak? Maka ini bisa dikategorikan sebagai umutrun musytabihat (perkara yang belum jelas). Dan untuk perkara-perkara yang belum jelas itu, Nabi ﷺ telah menerangkan bagaimana cara menyikapinya, yaitu dengan berhati-hati padanya. Nabi ﷺ bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Shahabat Nu’man bin Basylr radhiyallaahu ‘anhu yang disepakati keshahihannya :

Barangsiapa menjauhi perkara-perkara syubhat maka sungguh dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan barangsiapa jatuh kedalam perkara-perkara syubhat maka dia telah terjatuh kedalam perkara yang haram.

2. Ko’ta Madinah adalah Thaibah

Di antara keutamaan kota Madinah Lainnya adalah Nabi Muhammad ﷺ menamainya dengan nama Thaibah juga Thaabah (yang baik dan mulia), bahkan disebutkan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa Allah menamai kota Madinah dengan Thaabah. Nabi ﷺ bersabda:

Sesungguhnya Allah menyebut kota Madinah dengan (nama) Thaabah.

Dua kalimat ini (yaitu Thaibah dan Thaabah) merupakan kata turunan dari kata at-thayyib. Kedua kata tersebut menunjukkan makna yang baik. Jadi, dua kata itu adalah kata yang baik dan disematkan sebagai nama bagi sebuah tempat yang baik juga.

3. Keimanan Akan Kembali ke Kota Madinah

Diantara keutamaan yang Lain dari kota Madinah adalah iman akan kembali ke Madinah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

Sesungguhnya iman akan kembali ke kota Madinah sebagaimana ular kembali kelubang atau sarangnya. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maksudnya adalah iman akan kembali menuju Madinah dan menetap di Madinah, serta kaum Muslimin akan berbondong-bondong mendatangi kota Madinah. Yang mendorong mereka melakukan itu semua adalah keimanan dan kecintaan mereka terhadap tempat yang penuh dengan berkah serta telah dijadikan wilayah haram oleh Allah subhanahu wata’ala.

~ bersambung ~

Majalah As-Sunnah Edisi 05/Thn XVIII/Dzulqa’dah 1435H/September 2014M

Check Also

Sirah Nabawiyah 25 : Jibril ‘alaihissalam Turun Kembali Membawa Wahyu

Sirah Nabawiyah 25 : Jibril ‘alaihissalam Turun Kembali Membawa Wahyu Permulaan ayat-ayat tersebut (surat al-Muddatstsir) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *