Tahapan menuntut Ilmu – Ustadz Reki Abu Musa, Lc.

? Tahapan Menuntut Ilmu..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

[عن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ يَقُولُ : نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ [ رواه الترمذي وابن ماجه وأحمد

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata:
Saya telah mendengar Nabi Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Semoga Allah Ta’ala menjadikan berseri-seri wajah seseorang yang mendengarkan sesuatu dari kami kemudian dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengarkan. Boleh jadi orang yang disampaikan itu lebih memahami dari yang mendengar (langsung)..”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Hadits ini mengisyaratkan keutamaan yg sangat besar kepada para penyebar ilmu berupa wajah yg berseri2 yg bagus dipandang. Sebagaimana mereka bersungguh2 meyebarkan ilmu yg mana merupakan sarana bagusnya iman.
Dan dengan ilmu tsb kehidupan menjadi lebih baik, maka Alloh membalas usaha penyebar ilmu tsb dengan wajah berseri dan nyaman dipandang.

Hadits ini juga mengisyaratkan tentang tahapan ilmu yg seyogyanya dilalui oleh penuntut ilmu.
Ibnul Mubaarak menyebutkan bahwa tahapan ilmu itu;

1. Niat

Berusahalah untuk sentiasa meluruskan niat dalam menuntut ilmu;
?Untuk ibadah mencari keredhoan Alloh
?Untuk bisa menjaga syariat Alloh
?Untuk menghilangkan kebodohan dalam diri sendiri
?Untuk berdakwah di jalan Alloh
?Untuk menghilangkan kebodohan dari orang lain..

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنما الأعمال بالنيات

Sesungguhnya setiap amalan (yg ada tuntunan syariatnya) itu tergantung niatnya.. (HR. Muslim)

2. Mendengarkan

Diam dan dengarkan dengan baik. Ambillah ilmu dalam majlis penuh ketenangan dan konsentrasi. Karena ilmu perlu adab dalam mengambilnya. Dan hendaknya engkau memegang sesuatu di tanganmu yg bisa digunakan untuk mencatat, agar ilmu yg tlah kau dapatkan tidak hilang.

Imam syafii pernah berkata,
“Ilmu itu seperti binatang buruan,
Maka ikatlah buruanmu itu dengan tali yg kuat..”

3. Memahami

Berkonsentrasilah untuk paham terhadap ilmu yg kau pelajari. Karena inilah maksud dari hadits Nabi, “Boleh jadi orang yg disampaikan lebih paham dari orang yg menyampaikan..” Sedikit tapi paham dan menguasai bidang ilmu, lebih baik dari pada banyak dipelajari tp tidak ada yg dikuasai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

( أن الله يحب إذا عمل أحدكم عملاً أن يتقنه ( أخرجه البيهقي

“Sesungguhnya Alloh mencintai apabila salah seorang diantara kalian melakukan suatu amalan ia menguasainya dengan baik..” (HR. Baihaqy)

4. Beramal

Beramal adalah buah terbesar dari ilmu.
Dan inilah yg membedakan antara seorang muslim yahudi dan nasrani.
Orang2 yahudi berilmu tapi tidak beramal, sedangkan odang nasrani beramal tanpa dilandasi ilmu yg benar.
Adapun seorang muslim, maka beramal sesuai dengan ilmu.

عبد الله بن المعتز: “علم بلا عمل كشجرة بلا ثمرة ”

Berkata Abdulloh Bin Mu’taz,
“Ilmu tanpa amal adalah bagaikan pohon tidak berbuah..”

. وقال أيضا: “علم المنافق في قوله وعلم المؤمن في عمله”.

Dan beliau juga berkata,
“Ilmunya orang munafiq itu ada pada lisannya saja.
Dan ilmunya orang mukmin ada pada amalnya..”

5. Menghapal

Tahapan berikutnya adalah menghapal. Meskipun diam dan paham tapi jika ilmu tidak dihapal maka lama kelamaan akan hilang dari ingatan.

?Khotib Al-Baghdadiy mengatakan,
”Sesungguhnya mereka (ulama)  memilih untuk menela’ah pada malam hari disebabkan hati mereka dalam keadaan kosong (dari kesibukan duniawiy) dan ketika hati kosong maka menghafal akan lebih cepat..”

?Isma’il bin Uwais mengatakan,
“Jika engkau berkeinginan untuk menghafal sesuatu, maka tidurlah kemudian bangunlah pada waktu sahur, kemudian nyalakannlah lampu, lalu hafalkanlah (yang enkau ingin hafal), engkau tidak akan lupa Insya Allah..”
(Al Jaami’ lil Khotib, 1872).

6. Berdakwah

Ini adalah buah terpenting kedua dari ilmu.
Seseorang ketika mendakwahkan ilmunya sungguh ia akan memperoleh kebaikan yg sangat banyak.
Alloh berfirman,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا
[سورة مريم 31]

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup..” (QS. Maryam:31)

? Imam Ibnul Qayyim menjelaskan ayat diatas bahwa,
ِKeberkahan seseorang itu ada pada:
?Pengajarannya terhadap segala macam kebajikan di mana pun ia berada, dan
?Nasehat yang ia berikan kepada semua orang yang berkumpul dengannya.

Saat menceritakan tentang Nabi Isa ‘alaihis-salam Allah berfirman,
“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada”. (Q.S. Maryam: 31)

Nabi ‘Isa ‘alaihis-salam menjadi manusia yang membawa berkah adalah karena ia;
?? Menjadi guru kebajikan.
?? Juru dakwah yang menyeru manusia kepada Allah.
?? Mengingatkan manusia tentang Allah.
?? Memotivasi manusia untuk taat kepada Allah.
King Abdul Aziz International Airport
Jeddah, 11 April 2016

 
Ibnun Nahl El-Musafiry * (Tim Pembimbing Almadinahtour.com)
____________________
S’moga Esok Lebih Baik…

Check Also

Sirah Nabawiyah 28 : Sekilas ulasan tentang urutan kronologi turunnya wahyu (2)

Sirah Nabawiyah 28 : Sekilas ulasan tentang urutan kronologi turunnya wahyu (2) Keempat, berupa bunyi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *