Site Loader

LOCATION

Yogyakarta, Indonesia

18-Ramadhan 1438 H

Kenapa Puasa Memiliki Dua Kegembiraan? Ini Hikmahnya

Dalam hadis Muttafaq ‘Alaihi, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
للصائم فرحتان فرحة حين يفطر، وفرحة حين يلقى ربه،
Artinya: “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan: kegembiraan tatkala berbuka, dan kegembiraan tatkala berjumpa dengan Rabb-nya”.
Hadis ini merupakan penggalan hadis dari redaksi hadis yang lebih panjang dalam Shahih Bukhari (7492) dan Muslim (1151).

Dua kegembiraan ini ada dua, yaitu yang didapat didunia tatkala berbuka puasa, dan yang didapat diakhirat tatkala berjumpa dengan Allah ta’ala.

Sabda beliau: “Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan”.

Ungkapan beliau ini menunjukkan bahwa yang benar-benar bisa meraih dua kegembiraan yang akan disebutkan kemudian adalah yang berpuasa dengan ikhlas, dan betul-betul sungguh-sungguh didalam ibadah ini. Artinya puasanya tidak hanya
meninggalkan pembatal-pembatal puasa, lalu bebas melakukan maksiat ataupun perbuatan sia-sia disiang hari puasa. Walaupun maksiat dan perbuatan sia-sia ini tidak membatalkan puasa, namun ia bisa menghilangkan atau mengurangi pahala tersebut. Oleh karena itu jenis orang seperti ini sudah disinggung sendiri oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam sabdanya: Artinya: Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak mempunyai sebuah keperluanpun untuk meninggalkan makan dan minumnya”. (HR. Bukhari: 1903)

Sabda Beliau: kegembiraan tatkala berbuka,

Para ulama banyak menyatakan tentang alasan kenapa seseorang yang berpuasa harus merasa gembira dengan dekatnya atau tibanya waktu berbuka. Diantara alasan tersebut adalah:

Pertama: Sebagai rasa senang atas sempurnanya ibadah puasa pada hari itu, dan bahwa ia tidak melalaikan puasa tersebut.

Kedua: Sebagai rasa senang akan berbuka dan menyantap makanan ifthor. Hal ini tidaklah dilarang namun dibolehkan, sebab ini merupakan fitrah manusia, yang apabila telah lama tidak menyantap makanan atau meneguk minuman, tentunya ia akan bergembira bila makanan atau minuman tersebut akan segera ia konsumsi, apalagi bila perutnya dalam keadaan lapar dan kerongkongannya dalam keadaan haus.

Sebab itu tidak aneh bila doa ketika berbuka: Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa Allah (“Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah.)” (Doa ini riwayat Abu Daud : 2357 )

Ketiga: Rasa senang karena adanya harapan dan keyakinan akan adanya pahala dan ganjaran puasa yang akan diraih dengan berakhirnya puasa pada hari itu. Sebab itu dalam doa diatas: (dan telah diraih pahala, insya Allah.)”

Keempat: Rasa gembira bahwa waktu berbuka merupakan waktu yang sangat mustajab untuk berdoa, sebagaimana dalam HR Ibnu Majah (1753) dan selainnya dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma ;
للصائم عند فطره دعوة ل ترد
Artinya ; “Bagi orang berpuasa ketika berbuka, memiliki doa yang tidak tertolak”.
Walaupun hadis memiliki sisi dhoif namun tetap disunatkan bagi orang berpuasa untuk memperbanyak doa karena doa disunatkan dalam waktu kapanpun dan juga karena orang yang puasa senantiasa ada dalam ketaatan yang mana doanya sangat mungkin dikabulkan oleh Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman :
وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجي ف ب دعوة الدا ث ع إذا دعان
Artinya ; “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Ayat doa ini terdapat dalam redaksi ayat-ayat puasa yang menunjukkan pentingnya doa ketika menjalankan ibadah puasa khususnya dibulan ramadhan.

Dalam Fath Al-Bari, Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan bahwa kegembiraan ketika berbuka puasa memiliki dua hukum, yaitu bisa mubah dan bisa sunat. Yang mubah adalah kegembiraan karena tabiat fitrah manusia yaitu ingin segera makan dan minum (sebagaimana yang disebutkan dalam poin kedua diatas). Adapun bila alasan kegembiraannya adalah poin pertama, ketiga dan keempat diatas maka hukumnya sunat, serta kegembiraan tersebut akan diberikan ganjaran tersendiri oleh Allah ta’ala.

Sabda beliau: kegembiraan tatkala berjumpa dengan Rabb-nya (bersambung pada artikel berikutnya)

Sumber : TUNTUNAN RAMADHAN: ANTARA RITUAL TAHUNAN DAN PENYUCIAN JIWA (Kumpulan Tulisan dan Terjemahan Seputar Ramadhan), Maulana La Eda, Lc.

Like fanpage dan instagram kami @almadinahtour untuk mendapatkan artikel-artikel islami bermanfaat dan informasi Haji dan Umroh yang murah dan terjangkau.

www.almadinahtour.com
082265938444
087738628444 (WA)

Post Author: Reza Prasetya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *