Sirah Nabawiyah 24 : Jibril ‘alaihissalam Turun Kembali Membawa Wahyu

Sirah Nabawiyah 24 : Jibril ‘alaihissalam Turun Kembali Membawa Wahyu

Ayat-ayat tersebut (Surat Al-Mudatsir 1-7) merupakan permulaan dari masa kerasulan (risalah) beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam alias datang setelah masa kenabian (nubuwwah) yang berjarak selama masa stagnan turunnya wahyu. Ayat-ayat tersebut mengandung dua jenis taklif (pembebanan syara’) beserta penjelasan konsekuensinya.

Jenis pertama adalah mentaklif beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penyampaian (al-Balagh) dan peringatan (at-Tahzir) saja. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala:
“Bangunlah! Lalu berilah peringatan” (Surat al-Muddatstsir:2); makna ayat ini adalah agar beliau memperingatkan manusia akan azab Allah atas mereka jika mereka tidak bertaubat dari dosa, kesesatan, beribadah kepada selain Allah Yang Maha Tinggi serta berbuat syirik
kepadaNya dalam zat, sifat-sifat, hak-hak dan perbuatan-perbuatan.

Jenis kedua adalah mentaklif beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penerapan perintah-perintah Allah Ta’ala terhadap zatNya dan komitmen terhadapnya dalam jiwa beliau agar mendapatkan keridhaan Allah dan menjadi suri teladan yang baik bagi orang yang beriman kepada Allah. Hal ini tercermin pada ayat-ayat berikutnya. FirmanNya Ta’ala: “dan Rabb-mu agungkanlah!”(al-Muddatstsir: 3); maknanya adalah khususkanlah
Dia Ta’ala dengan pengagungan dan janganlah menyekutukanNya dengan seseorangpun.

Dan firmanNya: “dan pakaianmu bersihkanlah!” (al-Muddatstsir:4); makna lahiriyahnya adalah menyucikan/membersihkan pakaian dan jasad sebab tidaklah layak bagi orang yang mengagungkan Allah dan menghadapNya dalam kondisi dilumuri oleh najis dan kotor. Jika saja kesucian/kebersihan ini dituntut untuk dilakukan maka kesucian/kebersihan diri dari virus-virus syirik, pekerjaan dan akhlak yang hina tentunya lebih utama untuk dituntut.

Dan firmanNya: “dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah!” (al-Muddatstsir:5) ; maknanya adalah jauhkanlah dari sebab-sebab
turunnya kemurkaan Allah dan azabNya, dan hal ini direalisasikan melalui komitmen untuk ta’at kepadaNya dan meninggalkan maksiat.

Sedangkan firmanNya: “dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak!” (alMuddatstsir: 6); yakni janganlah kamu berbuat baik dengan menginginkan upah dari manusia atasnya atau balasan yang lebih utama di dunia ini.

Adapun makna ayat terakhir (yang diturunkan saat itu kepada beliau-red); didalamnya terdapat peringatan akan adanya gangguan dari kaumnya ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berbeda agama dengan mereka, mengajak mereka kepada Allah semata dan memperingatkan mereka akan azab dan siksaanNya; yaitu dalam firmanNya: “dan untuk memenuhi (perintah Rabb-mu) bersabarlah!” (al-Muddatstsir: 7)

Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury
Sumber : Kitab Ar-Rahiqul Makhtum, Bab 7

Like fanpage www.facebook.com/almadinahtour dan follow instagram kami @almadinahtour untuk mendapatkan artikel-artikel islami bermanfaat dan informasi Haji dan Umroh yang murah dan terjangkau.

www.almadinahtour.com
082265938444 – 087738628444 (WA/SMS/Telpon)
Jalan Monjali no. 179B
Blunyahgede, Sinduadi, Mlati, Sleman

#umrohmurah #umrohresmi #umrohresmijogja #umrohsunnah #umrohmurahjogja #umrohVIP #umrohpremium #umrohberkah #travelumrohterpercaya #umrohbandung #oleholehhajiumroh #perlengkapanhajiumroh #oleholehhaji #airzamzam

Check Also

Sirah Nabawiyah 25 : Jibril ‘alaihissalam Turun Kembali Membawa Wahyu

Sirah Nabawiyah 25 : Jibril ‘alaihissalam Turun Kembali Membawa Wahyu Permulaan ayat-ayat tersebut (surat al-Muddatstsir) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *