Pembatal Puasa tidak berlaku jika …

Pembatal-pembatal puasa tersebut di atas tidaklah menyebabkan batalnya puasa kecuali dengan tiga syarat:

#1. Mengetahui hukum dan waktu.
#2. Dikerjakan dalam keadaan ingat.
#3. Dikerjakan tanpa keterpaksaan.

Oleh karena itu, jika seseorang berbekam sedangkan ia menyangka bahwa berbekam tersebut tidak membatalkan puasa maka puasanya tetap sah, karena
ia mengerjakannya dalam keadaan jahil (tidak mengetahui). Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tidak ada dosa atas kalian pada apa-apa yang kalian tersalah padanya, akan tetapi (yang ada dosanya) adalah apa-apa yang disengaja oleh hati-hati
kalian.” (QS 33:5)

Dan Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS 2:286)

Maka Allah Ta’ala berfirman:
“Aku telah melakukannya.”

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, dari Adi bin Hatim bahwasanya ia meletakkan dua utas benang berwarna hitam dan putih di bawah bantalnya, lalu ia makan sembari melihat pada kedua benang tersebut. Setelah jelas perbedaan antara kedua benag tersebut, maka ia menghentikan makannya. Ia melakukannya karena menyangka bahwa inilah makna firman Allah Ta’ala;
“Hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam.” (QS 2:187)

Kemudian ia mengkhabarkan apa yang ia kerjakan tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda kepadanya: “Sesungguhnya yang dimaksudkan adalah putihnya siang dan gelapnya malam.”

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkannya untuk mengulangi puasanya. Demikian pula, jika seseorang makan karena menyangka fajar belum terbit atau menyangka matahari telah tenggelam, kemudian ternyata sangkaannya tersebut keliru maka puasanya tetap sah, karena ia tidak mengetahui waktu.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari, dari Asma’ binti Abu Bakar, ia berkata:
“(Suatu ketika) pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika keadaan langit mendung kami berbuka puasa, kemudian terlihatlah matahari.”

Jikalau kasus seperti itu mewajibkan adanya qadha’, tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskannya, karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan agama Islam dengan diutusnya beliau. Dan jikalau Nabi menjelaskannya, tentulah
ada nukilan dari para sahabat tentang hal itu, karena Allah Ta’ala telah menjamin untuk menjaga agama ini. Dikarenakan tidak adanya nukilan dari para sahabat, maka kita mengetahui bahwa mengqadha’ puasa dalam keadaan seperti itu bukanlah suatu kewajiban. Demikian pula, nukilan tentang hal ini (jika memang ada) adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan karena perkara ini sangat penting, maka tidak mungkin ada kelalaian dalam hal ini.

Sumber : Kitab : FUSHUL FI SHIYAM, Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Edisi Indonesia: Meraih Surga Di Bulan Ramadhan, hal : 28-30

Like fanpage dan instagram kami @almadinahtour untuk mendapatkan artikel-artikel islami bermanfaat dan informasi Haji dan Umroh yang murah dan terjangkau.

www.almadinahtour.com
082265938444
087738628444 (WA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *